“
PINRANG — Media BahanaMerdeka — Pemandangan humanis terlihat di depan Kantor DPRD Kabupaten Pinrang, Senin (31/8/2026). Saat Aliansi Masyarakat menggelar aksi menyuarakan kelangkaan dan persoalan distribusi LPG 3 kilogram, Kapolres Pinrang AKBP Edy Sabhara Manggabarani turun langsung menemui massa.
Bukan hanya memantau dari kejauhan, Kapolres memilih duduk lesehan bersama peserta aksi di tengah teriknya matahari. Ia mendengarkan langsung keluhan dan aspirasi masyarakat terkait sulitnya memperoleh LPG 3 kilogram.
Sikap tersebut menunjukkan pendekatan dialogis dan humanis dalam mengawal penyampaian pendapat di ruang publik. Polisi tidak hanya menjaga keamanan aksi, tetapi juga membuka ruang komunikasi dengan masyarakat.
Dalam aksinya, massa mendesak pemerintah dan DPRD Pinrang melakukan inspeksi mendadak terhadap pangkalan LPG 3 kilogram, khususnya yang diduga menjual di luar ketentuan. Massa juga meminta audit terhadap rantai distribusi mulai dari agen hingga pangkalan untuk mengungkap penyebab kelangkaan.
Jenderal lapangan aksi, Bilgates, menegaskan bahwa tuntutan tersebut lahir dari keresahan masyarakat.
«“Aspirasi yang kami bawa hari ini merupakan keresahan dari masyarakat itu sendiri. Banyak masyarakat yang mau memasak, tetapi tabung gas tidak ada,” ujarnya.»
Selain ketersediaan, massa meminta pemerintah memastikan harga LPG 3 kilogram sesuai ketentuan, sekaligus membuka transparansi kuota dan pasokan masing-masing pangkalan agar LPG bersubsidi tepat sasaran.
Massa juga meminta pangkalan yang terbukti melanggar diberikan sanksi tegas, termasuk pencabutan izin sesuai ketentuan yang berlaku.
Aspirasi massa diterima sejumlah anggota DPRD Pinrang, di antaranya P. Barodding, Samsul Bahar, S.H., M.H., dan Muh. Dahlan.
P. Barodding menyatakan DPRD akan menindaklanjuti tuntutan tersebut, termasuk memeriksa pangkalan LPG 3 kilogram.
«“Akan kami tindak lanjuti tuntutan adik-adik dan akan memeriksa semua pangkalan. Apabila ditemukan pelanggaran, akan diberikan sanksi, termasuk pencabutan izin,” tegasnya.»
Kehadiran Kapolres yang memilih duduk bersama massa menjadi pesan bahwa pengamanan aksi tidak semata-mata menjaga situasi tetap kondusif, tetapi juga menghormati hak masyarakat menyampaikan pendapat.
Di tengah panasnya cuaca dan kerasnya tuntutan, dialog tetap dibangun. Polisi hadir bukan untuk menjauh dari suara masyarakat, tetapi memastikan aspirasi dapat disampaikan secara aman, tertib dan sesuai hukum.
(Biro Pinrang — Media BahanaMerdeka)
0Komentar