Makassar – Di tengah gencarnya aparat Polda Sulawesi Selatan membongkar praktik penyalahgunaan BBM subsidi, muncul dugaan adanya jaringan besar yang justru tak tersentuh hukum. Kelompok ini disebut beroperasi rapi di kawasan Sungai Tallo, Makassar, dan berulang kali lolos dari operasi Satgas Gabungan.
Titik Aktivitas Mencurigakan
Penelusuran lapangan dan keterangan sejumlah sumber mengungkap aktivitas mencurigakan di bawah jembatan tol Ir Sutami. Tiga kapal berwarna biru dan putih kerap terlihat berlabuh di lokasi yang dikenal sebagai jalur lalu lintas kapal kecil. Kapal tersebut diduga menjadi tempat penampungan BBM subsidi ilegal sebelum dipindahkan ke kapal lain di tengah laut.
Dugaan Keterlibatan Oknum Aparat
Sumber yang enggan disebutkan namanya menyebut jaringan ini dikendalikan oleh seorang oknum aparat berinisial IL. Ia diduga berperan sebagai pengatur utama dari belakang layar, memastikan setiap pergerakan jaringan selalu lolos dari operasi penertiban.
Semua pergerakan diduga diatur. Itu yang bikin mereka selalu lolos. Seolah-olah sudah tahu lebih dulu kapan ada operasi,” ungkap sumber.
IL disebut dibantu dua eks narapidana terorisme berinisial AA dan UN. AA berperan dalam pengamanan, sementara UN diduga menjadi eksekutor lapangan yang mengatur pemindahan BBM dari satu titik ke titik lain.
Modus Operasi
Jaringan ini diduga memiliki sedikitnya empat unit kapal. BBM subsidi dikumpulkan dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan, seperti Pangkep, Barru, Bone, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, hingga Sinjai. Setelah ditampung di Sungai Tallo, BBM dipindahkan ke kapal lain di tengah laut untuk dijual dengan harga industri.
Praktik ini jelas merugikan negara dan masyarakat kecil yang seharusnya menjadi penerima manfaat BBM subsidi.
Pola Tertutup dan Disiplin
Jaringan ini disebut sangat disiplin dan tertutup. Mereka menggunakan pola komunikasi terbatas serta berpindah lokasi untuk menghindari deteksi aparat. Kapal yang sebelumnya rutin terlihat di Sungai Tallo kini dilaporkan sudah tidak lagi berada di lokasi, diduga dipindahkan setelah aktivitas mereka mulai terendus.
Sumber menduga adanya kebocoran informasi dari internal aparat, sehingga setiap rencana penertiban selalu gagal menyasar kelompok ini. “Kalau tidak ada yang bocorkan, tidak mungkin mereka selalu selamat. Ini yang harus diusut,” tegasnya.
Desakan Publik
Masyarakat mendesak aparat penegak hukum untuk tidak tinggal diam. Polda Sulsel dan Satgas Gabungan diminta melakukan investigasi mendalam, termasuk menelusuri dugaan keterlibatan oknum aparat dalam jaringan tersebut.
Jangan hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Ini BBM subsidi, hak masyarakat kecil,” ujar sumber.
Bantahan Pemilik Kapal
Sementara itu, terduga pemilik kapal membantah keterlibatan dalam praktik ilegal. Ia mengklaim kapal tersebut hanya digunakan untuk aktivitas biasa seperti memancing dan mengangkut air bersih ke kapal di laut. “Itu kapal memang dekat rumah saya di bawah jembatan tol. Dipakai mancing sama muat air bersih,” ujarnya melalui pesan singkat, Rabu (29/4/2026).
Meski bantahan telah disampaikan, indikasi di lapangan masih menyisakan tanda tanya besar. Awak media terus melakukan penelusuran dan pengumpulan data untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik dugaan praktik penyalahgunaan BBM subsidi yang diduga melibatkan jaringan terorganisir ini.
0Komentar