Makassar,Provinsi Sulawesi-Selatan Indonesia,Bahana Merdeka,Com
MAKASSAR — 27-9-26 - BahanaMerdeka.com — Tidak semua peristiwa besar pertama kali terekam oleh kamera wartawan. Kadang, justru tangan seorang warga biasa yang sedang berada di lokasi menjadi saksi pertama yang mengabadikan sebuah kejadian.

Dengan telepon seluler sederhana, seorang warga bisa merekam detik-detik bencana, kecelakaan, kebakaran, atau peristiwa penting lainnya. Rekaman itu mungkin dibuat tanpa peralatan profesional, tanpa tripod, bahkan tanpa memahami teknik jurnalistik. Namun, gambar tersebut bisa memiliki nilai dokumentasi yang sangat besar.

Pemahaman inilah yang menjadi perhatian Tim Makassar AS, Media BahanaMerdeka dalam melihat persoalan pengambilan gambar untuk kepentingan dokumentasi.

Yang memegang kamera tidak selalu wartawan. Tetapi setiap rekaman memiliki cerita.

Warga yang berada di lokasi sebuah peristiwa pada dasarnya dapat menjadi saksi mata sekaligus pembuat dokumentasi awal. Mereka tidak harus memiliki kartu pers atau sertifikat Uji Kompetensi Wartawan (UKW) hanya untuk merekam apa yang terjadi di depan mata.

Namun, perlu dibedakan antara dokumentasi warga dan produk jurnalistik.

Sebuah video yang direkam warga dapat menjadi bahan awal yang sangat berharga bagi media. Tetapi ketika rekaman tersebut hendak dijadikan berita, diperlukan proses jurnalistik: verifikasi lokasi dan waktu, pemeriksaan sumber, konfirmasi kronologi, serta pengecekan kepada pihak terkait.

Hal itu penting agar sebuah gambar tidak kehilangan konteks dan tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru di tengah masyarakat.

Pengalaman berbagai bencana di Indonesia memperlihatkan betapa pentingnya dokumentasi masyarakat. Rekaman amatir tsunami Palu 2018, misalnya, kemudian menjadi bagian dari bahan pemberitaan dan bahkan digunakan dalam penelitian untuk memahami karakteristik serta waktu kedatangan gelombang tsunami.

Begitu pula dokumentasi tsunami Aceh 2004 yang hingga kini menjadi bagian dari arsip sejarah kebencanaan Indonesia.

Dari sini terlihat bahwa nilai sebuah rekaman tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang memegang kamera, tetapi juga oleh keaslian, konteks, dan bagaimana rekaman tersebut dipergunakan.

Warga merekam peristiwa. Wartawan memverifikasi fakta. Media memberikan konteks kepada publik.

Ketiganya dapat saling melengkapi.

Karena itu, Tim Makassar AS BahanaMerdeka memandang masyarakat yang mengabadikan sebuah peristiwa secara spontan tidak seharusnya dianggap remeh hanya karena bukan wartawan.

Bisa jadi, rekaman sederhana dari telepon seluler seorang warga hari ini justru menjadi potongan sejarah yang sangat berharga di kemudian hari.

Yang terpenting, dokumentasi tersebut tidak dipelintir, tidak direkayasa, tidak disalahgunakan, dan ketika disajikan sebagai berita tetap melalui proses verifikasi serta konfirmasi yang bertanggung jawab.

Sebab kamera boleh berada di tangan siapa saja. Tetapi kebenaran tetap membutuhkan tanggung jawab.

— Tim Makassar AS
Media BahanaMerdeka