RSUD Batara Guru Belopa kembali menjadi sorotan setelah lonjakan pasien memperlihatkan lemahnya keseimbangan antara anggaran, fasilitas, dan jumlah tenaga medis. Di tengah pembangunan gedung baru dan perluasan layanan, pasien justru mengeluhkan antrean panjang serta lambatnya penanganan di IGD dan ruang rawat inap.
Direktur rumah sakit, dr. Daud Mustakim, mengakui tenaga medis bekerja di bawah tekanan berat. Bahkan, satu perawat disebut harus menangani banyak pasien sekaligus, terutama di ruang anak dan IGD. Kondisi ini dinilai berbahaya karena berisiko menurunkan kualitas pelayanan dan memicu kelelahan tenaga kesehatan.
Publik menilai pembangunan fisik rumah sakit tidak akan berarti jika persoalan utama seperti kekurangan tenaga medis, pelayanan lambat, dan kebersihan belum dibenahi secara serius. Kritik juga mengarah pada pengelolaan anggaran rumah sakit yang dinilai belum mampu menjawab kebutuhan pelayanan masyarakat.
Dalam Peraturan Bupati Luwu Nomor 12 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Keuangan BLUD RSUD Batara Guru ditegaskan bahwa pengelolaan anggaran rumah sakit wajib dilakukan secara efisien, transparan, dan berorientasi pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, masyarakat khawatir RSUD Batara Guru Belopa hanya sibuk membangun gedung, tetapi gagal memperbaiki pelayanan dasar yang paling dibutuhkan pasien.
(Tim as)
0Komentar