Gowa,Provinsi Sulawesi_Selatan Indonesia,Bahana Merdeka,Com
GOWA — Operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah H. Bate, Kabupaten Gowa, yang dikelola Yayasan Yasika Center, kini menjadi sorotan tajam. Operator dapur diduga melakukan manipulasi data pasokan bahan pangan serta menjalankan dapur tanpa head chef dan chef pendamping sebagaimana standar program dari pemerintah.

Informasi tersebut diungkap sejumlah pekerja dapur yang mengaku selama ini seluruh proses pengolahan makanan, mulai dari racikan bumbu hingga memasak, dilakukan sendiri oleh pekerja tanpa pengawasan tenaga profesional.

“Selama ini tidak ada chef yang bekerja. Kami relawan yang mengurus semua masakan dan bumbu,” ungkap salah seorang relawan.

Selain persoalan SDM, muncul pula dugaan mark-up pasokan bahan makanan. Pekerja menyebut jumlah barang yang dilaporkan ke Badan Gizi Nasional (BGN) diduga tidak sesuai dengan jumlah barang yang masuk ke dapur.

“Contohnya ayam dilaporkan 250 kilogram, tetapi yang masuk jauh lebih sedikit. Barang sisanya disebut dijual kembali,” ujarnya.

Pekerja juga mengungkap adanya dugaan konflik kepentingan dalam sistem pengadaan barang. Owner dapur disebut mengambil alih langsung peran supplier setelah pemasok sebelumnya diberhentikan. Dugaan praktik tersebut dinilai membuka celah pengambilan keuntungan pribadi dalam pengelolaan program MBG.

Jika terbukti benar, praktik tersebut berpotensi melanggar sejumlah aturan, di antaranya:

Perpres Nomor 111 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional, terkait kewajiban standar operasional dapur MBG termasuk keberadaan head chef dan pengawasan mutu pangan;

UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, terkait keamanan dan standar mutu pangan;

UU Nomor 31 Tahun 1999 junto UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi, terkait dugaan manipulasi data dan potensi kerugian negara;

UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, terkait prinsip transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara.


Publik mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) segera melakukan audit mendadak terhadap dapur MBG di H. Bate, termasuk memeriksa kesesuaian data pasokan barang, realisasi penggunaan bahan pangan, serta keberadaan tenaga chef dan standar sanitasi dapur.

Inspektorat, aparat penegak hukum, hingga Ombudsman juga diminta turun melakukan pemeriksaan guna memastikan program MBG berjalan sesuai aturan dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak operator Yayasan Yasika Center maupun owner dapur belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan tersebut.
(As)